Hutan Kemasyarakatan, Solusi bagi Kaum yang Terpinggirkan

oleh : Vita Febrina

Perubahan paradigma pembangunan Kehutanan pada era reformasi telah memberikan angin segar dan harapan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan untuk meningkatkan kesejahteraan. Setelah puluhan tahun hanya menjadi penonton eksploitasi hutan oleh para pengusaha pemilik HPH, masyarakat sekarang diberikan kesempatan untuk mengelola hutan untuk meningkatkan taraf hidup mereka.

Adalah program Hutan Kemasyarakatan (HKm) yang dilaksanakan oleh Kementerian Kehutanan dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan hutan dengan tetap memegang prinsip hutan lestari. Melalui Permenhut nomor 37 tahun 2007 tentang Hutan Kemasyarakatan, maka masyarakat setempat diberikan hak untuk mengelola hutan dengan tetap mempertahankan fungsi hutan tersebut.

Secara sederhana, Hutan Kemasyarakatan adalah Hutan Negara yang pemanfaatannya diutamakan untuk masyarakat setempat. Hutan tersebut bisa berupa Hutan Lindung atau Hutan Produksi. Untuk Hutan Lindung, masyarakat diizinkan mengelola kawasan dan memanfaatkan hasil hutan bukan kayu, serta pemanfaatan jasa lingkungan. Sebagai contoh, masyarakat dapat memungut rotan, menanam tanaman obat-obatan, budidaya jamur ataupun menanam tanaman yang buahnya dapat dipanen, dengan persyaratan tidak melakukan aktivitas penebangan di kawasan hutan. Sedangkan untuk hutan produksi, masyarakat diizinkan menebang kayu setelah mengantongi izin dan mengikuti ketentuan yang dipersyaratkan.

Pengelola Hutan Kemasyarakatan adalah warga di sekitar kawasan hutan yang tergabung dalam kelompok tani yang mengajukan permohonan kepada kepala daerah untuk mengelola kawasan hutan disekitar tempat tinggal mereka. Permohonan ini akan diteruskan kepada Menteri Kehutanan untuk kemudian diberikan Izin Pengelolaan Hutan Kemasyarakatan setelah dilakukan verifikasi sebelumnya.

Bersama Bu Indra (Direktorat Bina Perhutanan Sosial) dan tim, berakit-rakit menuju lokasi HKm di Kabupaten Polewali Mandar, Sulbar.

Muka tegang, takut diseruduk kijang (tidak ji temang,main2 ka’).

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: